Jakarta, Berita Jejak Fakta– Pemerintah Indonesia mengimbau warga negara Indonesia (WNI) di Jepang tetap tenang namun waspada usai terjadi gempa bermagnitudo (M) 7,1 di Kumamoto, Pulau Kyushu.
“Tetap tenang dan waspada serta selau mengutamakan keselamatan diri dan keluarga, dan hanya menyebarkan informasi yang berasal dari sumber resmi,” tulis pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dalam imbauan yang diunggah di akun Instagram resminya, @kbritokyo, Rabu (29/7/2026).
WNI di Jepang diimbau untuk terus memantau informasi resmi mengenai situasi gempa melalui Japan Metereological Agency (JMA), pemerintah Jepang, serta media nasional dan resmi di Jepang.
Pihak KBRI Tokyo juga mengimbau agar WNI di Jepang mengikuti arahan dan instruksi dari otoritas setempat terkait langkah-langkah evakuasi maupun tindakan keselamatan lainnya.
“Mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan (aftershock) dan potensi bahaya lainnya sesuai dengan peringatan dari otoritas Jepang,” tulis pihak KBRI Tokyo.
WNI diimbau untuk terus mengaktifkan telepon genggam dan menghemat baterai ponselnya agar dapat dihubungi untuk keperluan darurat.
WNI diminta untuk menginformasikan kondisi diri kepada keluarga di Indonesia agar tidak menimbulkan kekhawatiran, serta saling membantu sesama WNI.
KBRI Tokyo menyediakan hotline kedaruratan di +81-80-3506-8612, +81-80-4940-7419, dan hotline KJRI Osaka di +81-80-3113-1003.
KBRI Tokyo pastikan WNI aman
Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya (Pensosbud) KBRI Tokyo, Muhammad Al Aula mengatakan, pihaknya akan terus memantau kondisi WNI di wilayah tersebut.
“Hingga saat ini pukul 21.14 (waktu setempat), WNI di wilayah tersebut masih dilaporkan dalam kondisi yang aman,” ujarnya dikutip dari Kompas.com, Selasa (28/7/2026) tadi malam.
Menurutnya, sekitar 30.000 WNI tinggal di wilayah Kyushu dan 5.000 WNI lain berada di Kumamoto, dua wilayah yang paling terdampak gempa.
Diketahui, pusat gempa berada sekitar 20 kilometer di selatan Kumamoto, kota terbesar di pulau Kyushu tengah dengan populasi sekitar 700.000 jiwa.(Red)












