Chairil Anwar Seorang Pahlawan, Sang Penyair Fenomenal Berjuang Melalui Puisi

PUISINYA DITOLAK MAJALAH, PERNAH DIPENJARA JEPANG, DAN MENINGGAL DI USIA 27 TAHUN, TAPI KATA-KATANYA MASIH HIDUP 76 TAHUN SETELAH TUBUHNYA PERGI

Berita Jejak Fakta –Ada penyair yang menulis untuk zamannya. Dan ada yang menulis untuk semua zaman.

Chairil Anwar termasuk yang kedua. Dan yang membuat itu luar biasa adalah bahwa ia hanya punya tujuh tahun untuk melakukannya — dari 1942 ketika puisi pertamanya terbit, hingga 28 April 1949 ketika ia menghembuskan napas terakhirnya di usia 27 tahun.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 26 Juli 1922, dari pasangan Toeloes — mantan pegawai pemerintah Belanda dan Bupati Indragiri — dan Saleha. Keduanya berasal dari Payakumbuh.

Ia adalah anak semata wayang yang tumbuh dengan kecintaan pada buku yang hampir tidak normal. Dalam usia remaja, ia sudah membaca karya-karya sastrawan besar dunia dalam bahasa aslinya — Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Edgar du Perron, Hendrik Marsman — autodidak, tanpa guru, hanya dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa dihentikan.

Ketika orang tuanya bercerai pada 1940 dan ia pindah ke Batavia bersama ibunya, Chairil menemukan dunianya di antara para seniman dan penulis yang berkumpul di Balai Pustaka. Di sana ia bertemu H.B. Jassin — editor dan kritikus sastra yang kemudian menjadi pendamping intelektualnya. Di sana juga ia mulai menulis dengan sungguh-sungguh.

Puisi pertamanya berjudul “Nisan” ditulis pada 1942, didedikasikan untuk neneknya yang baru saja wafat. Dari satu puisi itu, seluruh Indonesia sastra berubah.

Tapi perjalanan itu tidak mulus. Ketika Chairil mulai mengirimkan puisi-puisinya ke majalah Pandji Pustaka pada 1943, puisi-puisinya sering ditolak karena dianggap terlalu individualistis. Salah satunya adalah “Aku” — sebuah sajak yang kelak menjadi ikon sastra Indonesia sepanjang masa.

Puisi itu dianggap terlalu memuliakan diri sendiri, terlalu jauh dari semangat kolektif yang diinginkan redaktur masa itu.

Chairil tidak peduli. Ia terus menulis.

Dan ia tidak hanya menulis tentang cinta atau alam. Di tahun yang sama, 1943, ia menyampaikan pidato kebudayaan di hadapan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan — sebuah forum intelektual yang dijaga ketat oleh Jepang. Akibat puisi “Siap Sedia” yang dianggap menganjurkan pemberontakan terhadap Jepang, Chairil harus dibui selama tiga bulan. Seorang penyair muda berusia 21 tahun, dipenjara karena kata-katanya terlalu berbahaya bagi penjajah.

Itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah bukti bahwa kata-kata bisa semenakutkan senjata.

Puisi “Aku” — yang ditulis pada 1943 — menjadi karya paling fenomenalnya dan menganugerahi Chairil julukan “Si Binatang Jalang.”

Sajak itu mengajarkan sesuatu yang belum pernah benar-benar diajarkan dalam puisi Indonesia sebelumnya: bahwa seorang individu bisa berdiri tegak sendirian, menolak tunduk, menolak mati sebelum waktunya, dan tetap menemukan makna dalam hidup yang tidak sempurna.

Di masa pendudukan Jepang, ketika setiap kata yang terbit harus lolos sensor militer dan setiap gerakan diawasi, sajak tentang seorang individu yang menolak dipadamkan itu terasa seperti deklarasi perlawanan yang dikemas dalam diksi yang tidak bisa dituntut secara hukum.

Chairil tahu apa yang ia lakukan.

Ia juga menulis “Diponegoro” pada 1943 — sajak tentang seorang pemimpin yang bangkit melawan penjajah yang terang-terangan memanggil semangat perlawanan tanpa menyebutkannya secara langsung. Dan “Krawang-Bekasi” pada 1948 — sajak yang didedikasikan untuk para pemuda yang gugur dalam revolusi kemerdekaan, dengan baris-baris yang sampai hari ini masih dibacakan di peringatan-peringatan nasional.

Tapi di balik semua itu, ada kehidupan seorang manusia yang tidak sederhana.

Chairil pernah bekerja sebentar di kantor Wakil Presiden Hatta, tapi tidak kerasan karena harus bekerja rutin dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Ia keluar dan kembali ke hidupnya yang tidak teratur — bergadang, membaca, menulis, bergaul dengan seniman-seniman lain, hidup tanpa jadwal yang bisa diprediksi siapa pun.

Selama hidupnya, ia menghasilkan 94 tulisan: 70 sajak asli, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.

Sembilan puluh empat karya dalam tujuh tahun berkarya. Sementara tubuhnya perlahan digerogoti penyakit yang tidak ia anggap serius — atau mungkin tidak ia punya cukup waktu untuk menganggapnya serius.

Pada April 1949, kondisi Chairil memburuk. Ia dirawat di Rumah Sakit CBZ (kini RSCM) selama enam hari, dari 22 hingga 28 April 1949. Penyakit tifus yang menggerogoti tubuhnya menyebabkan ususnya pecah. Menjelang saat kepergiannya, ia sempat mengigau dan mengucap: “Tuhanku, Tuhanku..”

Pukul 14.30 WIB, 28 April 1949, ia wafat. Usianya 27 tahun kurang tiga bulan.

Di luar RSCM, Jakarta masih dalam revolusi. Agresi Militer Belanda II baru berakhir beberapa bulan sebelumnya. Para pejuang masih menghitung korban. Dan di sebuah ranjang rumah sakit di pusat kota, jiwa paling vokal dari generasinya pergi dengan satu kalimat yang tidak selesai kepada Tuhannya.

Chairil Anwar masih memiliki hubungan persaudaraan dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir — sebuah fakta yang menambahkan satu lagi ironi dalam hidupnya: sepupu dari orang yang paling berpengaruh di pemerintahan, tapi memilih hidup di luar sistem, menulis di luar batas, dan mati jauh dari kemewahan yang bisa saja ia dapatkan.

Setiap 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional Indonesia — untuk mengenang hari kepergiannya. Puisi-puisinya diajarkan di sekolah, dibacakan di panggung-panggung pertunjukan, dikutip dalam pidato-pidato kebudayaan. Namanya dikenang. Tapi yang lebih penting dari nama adalah apa yang ia tinggalkan: bukti bahwa kata-kata bisa lebih panjang umurnya dari tubuh yang menuliskannya, dan bahwa seorang pemuda dengan hanya selembar kertas dan sebuah pena bisa mengubah cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.

Chairil Anwar menulis tentang individu yang berdiri tegak, yang menolak tunduk, yang ingin hidup seribu tahun lagi — dan ia mewujudkan kata-katanya sendiri, meski tubuhnya hanya bertahan 27 tahun. Tujuh puluh enam tahun setelah kepergiannya, kebebasan berekspresi yang ia perjuangkan lewat kata-kata masih menjadi terrain yang diperebutkan.

Menurut data SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network), sepanjang 2023 terdapat 187 kasus kriminalisasi ekspresi digital di Indonesia — sebagian besar menyasar warga biasa yang menyampaikan kritik. Chairil pernah dipenjara Jepang karena puisinya. Pertanyaan untuk kita hari ini: seberapa merdeka kita benar-benar berbicara? (Red/fb desas desus cerdas)

ChairilAnwar #HariPuisiNasional #SejarahIndonesia #BinatangJalang #AgustusKemerdekaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha