Oleh :Nyimas Sakuntala Dewi
Berita Jejak Fakta –Menjelang awal puasa, pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi orang-orang yang mempersiapkan makanan mewah untuk sahur pertama.
Padahal, rupiah melemah, tapi mereka tidak peduli. Mereka ingin menikmati makanan yang lezat dan berlimpah di awal puasa. Sepintas, ini terlihat seperti balas dendam tidak makan siang saja.
Namun, ada dua versi dalam hal ini: versi si kaya dan versi si miskin. Si kaya menikmati makanan mewah, sementara si miskin bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan terkadang menunggu makanan dari si kaya melalui berbagi takjil dan sahuran.
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, bulan berbagi, dan bulan investasi. Menanam kebaikan dengan harapan mendapat ampunan dan ridho dari Allah.
Namun, mengapa kita hanya berbagi dan berbuat baik di bulan Ramadhan saja? Apakah kita lupa bahwa si miskin menahan lapar bukan hanya di Ramadhan saja?
Allah berfirman, “Puasa itu untuk orang yang beriman dan bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Jadi, dalam berpuasa, unsur niat itu adalah ikhlas. Unsur memberi ikhlas dan yang kita berikan bukan sekedar atau sisa, tetapi setara.
Makna puasa itu menahan lapar agar kita tahu bagaimana rasa lapar yang dirasakan saudara kita berhari, berbulan, bahkan bertahun.
Namun, adakah makna yang tersurat dan tersirat itu dapat menyentuh relung hati kita?
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai (dari api neraka)” (HR. Bukhari). Jadi, puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga tentang melindungi diri dari kejahatan dan keburukan.
Kita sering berbagi hanya karena tidak enakan, memberi seadanya, ikut-ikutan. Padahal, Allah memberi kode bahwa memberi bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Dan tidak berlebih-lebihan, pameran makanan seperti yang sering dipertontonkan di sosial media.
Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31).
Seketika, puasa itu adalah menahan hawa nafsu dari semua itu. Nafsu yang berlebihan dalam segala hal. Karena lapar siang ketika berbuka lalu hajar saja. Jadi, intinya puasa itu biasa-biasa saja, hanya tidak makan siang saja.
Yang terutama adalah pengendalian nafsumu. Jangan salahkan setan jika kau tidak puasa bilang puasa. Itu karena nafsu tadi.
– Apakah kita hanya berbagi dan berbuat baik di bulan Ramadhan saja karena ingin mendapatkan pahala atau karena ingin membantu orang lain?
– Apakah kita sudah memahami makna puasa yang sebenarnya, yaitu menahan lapar dan mengendalikan nafsu?
– Apakah kita sudah siap untuk mengendalikan nafsu kita dan menjadi lebih baik?
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Allah” (HR. Muslim).
Artinya yang paling sulit itu adalah mengendalikan hawa napsu karena apapun dapat rusak ketika nafsu mengendalikan manusia.
Karena sejatinya puasa itu adalah mengendalikan diri hawa nafsu.
Saya menulis ini bukan berarti saya adalah orang yang lebih baik dalam mengendalikan hawa napsu.
Justru karena dari tulisan ini saya belajar untuk dapat mengendalikan hawa napsu tersebut
Selamat menjalan ibadah puasa. Semoga puasa kita ditrima oleh Allah.Aamiin












