Oleh: Ebong Hermawan
Pengamat Kebijakan Publik
Berita Jejak Fakta -Plt Bupati Bekasi dr.Asep Surya Atmaja jika secara definitif sudah disahkan menjadi Bupati Bekasi maka dibutuhkan sosok Wakil Bupati yang layak mendampinginya.
Wacana mengenai sosok yang layak mendampingi Bupati Bekasi dr. Asep Surya Atmaja sebagai Wakil Bupati terus menjadi perhatian publik.
Pertanyaan ini dinilai bukan semata soal figur, melainkan menyangkut konstitusionalitas, efektivitas pemerintahan, serta percepatan pembangunan daerah agar visi Bangkit, Maju, Sejahtera benar-benar dirasakan masyarakat Kabupaten Bekasi.
Dalam sistem pemerintahan daerah, jabatan Wakil Bupati bukan sekadar pelengkap administratif, tetapi mitra strategis kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahan, menjaga stabilitas politik, serta memastikan program pembangunan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Koalisi pengusung pasangan Ade Kuswara Kunang – dr. Asep Surya Atmaja pada Pilkada Kabupaten Bekasi terdiri dari PDIP, Partai Buruh, PPP, PBB, dan Partai UMMAT.
Dari koalisi inilah sejumlah nama muncul dan dinilai memiliki kapasitas serta legitimasi politik untuk dipertimbangkan sebagai calon Wakil Bupati Bekasi.
Salah satu nama yang mencuat adalah Nyumarno, anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari PDIP.
Nyumarno dikenal sebagai politisi yang lahir dari gerakan aktivisme buruh. Rekam jejak elektoralnya terbilang kuat dengan perolehan suara lebih dari 21 ribu. Jargon “Nyumarno Kerja” dinilai merepresentasikan konsistensi kerja politik yang dekat dengan persoalan masyarakat akar rumput.
Nama lain yang diperbincangkan adalah H. Cecep Noor, Ketua DPC PPP Kabupaten Bekasi. Ia dikenal sebagai figur yang matang secara politik, loyal terhadap perjuangan umat, serta memiliki latar belakang sebagai pengusaha di sektor properti dan usaha lainnya.
Pengalaman tersebut dinilai memberi perspektif ekonomi dan manajerial yang penting dalam menopang pembangunan daerah.
Sementara itu, Iin Farihin, Ketua DPC PBB Kabupaten Bekasi, juga menjadi sorotan. Dengan pengalaman panjang selama lima periode pengabdian politik, ia dinilai memiliki kedewasaan politik dan ketajaman strategi. Latar belakang sebagai aktivis Islam, organisator lintas organisasi, serta jaringan sosial yang luas menjadikannya figur yang memahami peta sosial dan politik Kabupaten Bekasi.
Selain itu, figur senior H. Jejen Sayuti turut disebut sebagai tokoh dengan jam terbang politik lengkap. Pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten dan DPRD Provinsi, Jejen Sayuti dikenal memiliki pengalaman strategis dalam konsolidasi politik.
Rekam jejaknya dalam berbagai kontestasi politik membuatnya dijuluki sebagai sosok yang piawai membaca dinamika dan strategi kemenangan.
Menurut penulis, Wakil Bupati Bekasi yang ideal adalah figur yang mampu melengkapi kepemimpinan Bupati dr. Asep Surya Atmaja, bukan menyaingi atau membebani.
Kabupaten Bekasi dinilai membutuhkan wakil kepala daerah yang memiliki pengalaman politik matang, jejaring lintas partai dan masyarakat, kemampuan manajerial dan strategi, serta dapat diterima oleh berbagai kelompok, mulai dari buruh, umat, pengusaha, hingga generasi muda.
“Dengan kriteria tersebut, figur berpengalaman dan mampu melakukan konsolidasi politik menjadi kebutuhan utama. Nama-nama seperti H. Jejen Sayuti dan Iin Farihin menonjol dari sisi kedalaman pengalaman, sementara Nyumarno dan H. Cecep Noor merepresentasikan energi baru dan stabilitas sosial-ekonomi,” tulis Ebong Hermawan dalam opininya.
Ia menegaskan bahwa keputusan akhir seharusnya mengedepankan kepentingan Kabupaten Bekasi, bukan sekadar kepentingan partai atau figur tertentu. Wakil Bupati yang tepat adalah sosok yang mampu bekerja dalam senyap, tangguh menghadapi krisis, dan setia pada amanat rakyat.
“Kabupaten Bekasi tidak membutuhkan simbol, melainkan kerja nyata,” tegasnya.
Ebong Hermawan juga menegaskan bahwa tulisan tersebut murni merupakan opini pribadi sebagai bentuk refleksi dan perangsang diskursus publik. Ia menyatakan tidak memiliki keterikatan dengan kekuasaan mana pun dan tidak menulis untuk kepentingan pribadi.
“Saya selalu menarasikan pendapat secara objektif dan situasional, sebagai akumulasi pikiran masyarakat yang saya resapi. Ini bukan pujian, bukan pula keberpihakan, melainkan ungkapan harapan agar masyarakat Kabupaten Bekasi tetap optimis dan bersemangat untuk kemajuan daerah,” pungkasnya.(Red)












