Ironis ! Irigasi Sawah Mampet Penuh Semak Belukar dan Lumpur, Lunturnya Semangat Gotong Royong Benahi Pertanian Desa Sukaringin

Kab Bekasi, Berita Jejak Fakta– Kondisi infrastruktur pertanian di Desa Sukaringin, khususnya saluran irigasinya memprihatinkan penuh lumpur dan semak belukar.

Salah satu petani, Karman mengeluhkan hal tersebut karena sawahnya kesulitan mendapatkan air dan terancam gagal panen.

Menurut Karman yang merupakan warga Kampung Genting, Desa Sukaringin Kec Sukawangi, masalah ini sudah berlangsung lama dengan kondisi saluran irigasi tertutup gulma dan lumpur tebal tanpa ada tindakan nyata dari Pemdes dan masyarakat.

Ia berharap, masalah irigasi yang mendera saat ini bisa menjadi pemicu bagi warga Sukaringin untuk kembali mengaktifkan tradisi gotong royong dan kesadaran kolektif dalam menjaga aset pertanian bersama.

“Kami butuh orang pintar, yang punya ‘otak pertanian’ sejati, agar pertanian di Desa Sukaringin bisa lebih maju lagi, seperti desa-desa tetangga yang lain,”ujar Karman.

Karman dan petani lainnya berharap kritik keras ini dapat didengar oleh pihak berwenang.

Mereka mendesak agar perbaikan dan normalisasi saluran irigasi segera dilakukan.

Ketersediaan air yang memadai adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan menjamin ketahanan pangan di Desa Sukaringin.

“Air sawah itu yang paling penting buat petani. Tapi sudah satu tahun ini, saluran irigasi kita seperti lubang semut, air sulit mengalir sampai sawah, ” keluh Karman saat ditemui di pematang sawah.

“Kami kesulitan air. Bagaimana padi mau tumbuh maksimal kalau airnya minim begini, harus ada niat dan tindakan nyata dari semua pihak untuk atasi ini, ” cetusnya.

Tuntutan para petani butuh pemimpin dengan yang peduli pada pertanian karena masalah irigasi yang mandek ini jauh lebih penting dari pada sekadar pekerjaan fisik.

Ia menilai petani Desa Sukaringin saat ini membutuhkan pemimpin yang memiliki visi dan komitmen nyata terhadap sektor pertanian.

“Kami ini butuh orang yang bijak, bukan cuma omong kosong,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Rajab, warga Kampung Kedung, RT 002 RW 001, Desa Sukaringin, dirinya memimpikan lagi petani kampungnya kembali semangat dengan etos kerja yang tinggi untuk membangun desanya seperti masa kecilnya dulu.

Rajab bercerita bahwa dulu, sebelum musim tanam tiba, kebersamaan adalah pemandangan yang biasa dan wajib dilakukan.

“Waktu jaman saya masih kecil, Maah (dulu) saya sering lihat petani. Re’sep(senang) lihatnya,” kenang Rajab.

“Kalau mau musim turun sawah, mereka pada guyub bareng-bareng benerin galuran aer (saluran air), gotong royong,” ujarnya.

Menurut Rajab, membersihkan dan memperbaiki galengan (pematang) serta saluran irigasi bukan hanya tugas pemerintah atau pekerjaan individu, melainkan tradisi komunal yang dipegang teguh.

“Kebiasaan gotong royong ini memastikan bahwa air mengalir lancar dan merata ke seluruh petak sawah, menjadi kunci keberhasilan panen bersama, namun sekarang sudah ditinggalkan, ” ungkapnya sedih.

Harapan Agar Semangat Guyub Kembali

Kenangan indah itu kini berbanding terbalik dengan kondisi yang dikeluhkan oleh petani seperti Karman, yang menyebut saluran irigasi saat ini hanya seukuran “lubang semut”. Kondisi yang kontras ini memunculkan pertanyaan: ke mana perginya semangat kebersamaan petani yang dulu sangat kuat?

Rajab mengatakan mengembalikan fungsi irigasi sama pentingnya dengan mengembalikan semangat guyub yang mulai pudar. (HB/Red) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *