Jakarta, Berita Jejak Fakta -Dalam beberapa hari ini saya diminta oleh beberapa pihak untuk tidak lagi atau mengurangi pembicaraan atau postingan terkait ijazah palsu dan atau soal lainnya yang relevan.
Ijinkan saya menyampaikan sikap saya:
Bismillahirrahmanirrahiim.
1. Saya menghormati setiap saran untuk cooling down. Saya percaya bahwa orang2 ini pasti punya rasa sayang pada saya. Mereka tidak ingin melihat saya menderita, sulit atau tersiksa. Ini sungguh2 saya hargai, saya takzim dgn penuh hormat atas kebaikan hati ini. Allah akan membalas kebaikan hati orang2 ini. Saya akan memberikan perhatian serius atas kebaikan hati ini.
2. Sebagai akademisi dan warga negara, saya tentu tidak dapat menghentikan kerja ilmiah saya hanya karena tekanan situasional. Kebenaran ilmiah tidak mengenal jeda, tidak tunduk pada ketakutan, dan tidak bisa dihentikan oleh tekanan kekuasaan mana pun.
3. Penelitian saya lahir dari kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan kejelasan atas isu-isu publik yang memengaruhi kehidupan berbangsa. Selama masih ada pertanyaan besar dari rakyat, maka masih ada kewajiban moral dan intelektual bagi akademisi untuk melanjutkan kerja keilmuannya.
4. Pemeriksaan panjang yang saya hadapi tidak mengubah komitmen saya sedikit pun. Justru pengalaman itu menguatkan keyakinan bahwa demokrasi membutuhkan ilmuwan yang berani bersuara, bukan yang memilih diam ketika publik membutuhkan penjelasan ilmiah.
5. Saya akan tetap bersikap tegas, kritis, dan profesional. Kritik saya bukan diarahkan kepada individu, tetapi pada proses, sistem, dan transparansi institusional yang wajib dijaga demi kredibilitas negara. Menuntut keterbukaan bukanlah tindakan permusuhan; itu adalah fondasi demokrasi modern.
6. Sikap saya ini sebagai pilihan untuk menaruh hormat dan percaya pada Presiden Prabowo yg sejauh pengetahuan saya sangat menghormati kebebasan berpendapat. Dibalik sikap tegas beliau, saya yakin beliau adalah seorang demokrat sejati. Selama lebih dari 15 tahun mengikuti sikap dan tindakan Presiden Prabowo, saya yakin beliau memiliki sikap kenegarawanan yg luar biasa terkait hal2 yg terjadi saat ini.
7. Saya mengajak semua pihak memahami bahwa penelitian—khususnya penelitian perilaku dan kajian sosial—adalah proses ilmiah yang selalu berkembang seiring data yang muncul. Saya akan terus melakukan riset, mengumpulkan bukti, dan menyampaikan temuan akademik seperti yang seharusnya dilakukan oleh siapa pun yang memegang integritas ilmu.
8. Saya bukan sedang mencari musuh. Yang saya cari adalah kualitas masa depan bangsa. Ini saya sangat yakin menjadi perhatian Presiden Prabowo juga. Transparansi adalah syarat dasar agar generasi berikutnya tumbuh di atas fondasi kebenaran, bukan ketakutan.
9. La hawla wa laa quwwata illa billah. Hasbunallah wa ni‘mal wakil.
Salam Takzim
dr.Tifauzia Tyassuma, M.Sc.
