Kemeriahan Hajatan Kampung Pondok Ungu ke 2, Disparbud Apresiasi Budaya Sorogan Jadi Aset Budaya Bekasi

Kemeriahan Hajatan Kampung Pondok Ungu ke 2 Kota Bekasi Dihadiri Lurah Meda Satria, Kabid Kebudayaan Disparbud Kota Bekasi, Tokoh Masyarakat dan Tarian Tradisional

Kota Bekasi, Berita Jejak Fakta– Hajatan Kampung Pondok Ungu dimeriahkan Tradisi “sorogan” atau nyorog di Bekasi yang merupakan tradisi budaya masyarakat dengan mengirim makanan dan bingkisan kepada keluarga atau tetangga yang lebih tua, terutama menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri, Minggu (09/11/2025).

Tampak hadir di acara Hajatan Kampung Pondok Ungu tahap ke 2, Lurah Medan Satria, Wawan Hermawan, Dedi Suparman dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi Ketua RW 06 Hendrik, tokoh masyarakat, aparat Babinsa dan Bimaspol.

Acara juga dimeriahkan puluhan peserta lomba tari tradisional yang diikuti sanggar tari se Jabodetabek dan Karawang serta bazar UMKM sebagai bagian dari turut membangun ekonomi kerakyatan.

Tradisi Sorogan ini juga dilakukan sebelum atau sesudah pernikahan, di mana pihak muda meminta restu dan menjaga silaturahmi dengan keluarga yang lebih tua.

Menurut Ketua Panitia Acara Baba Rudi, tradisi Sorogan mempunyai makna dan tujuan

menjaga silaturahmi yang dilaksanakan di RW 06, Kelurahan Medan Satria, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

“Nyorog adalah cara untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, serta menjalin kembali ikatan kekeluargaan yang sempat renggang, ” jelasnya.

Sorogan juga bisa dilakukan dalam sebuah acara pernikahan atau acara besar dengan meminta restu dan doa, pihak yang lebih muda mengirimkan makanan dan meminta doa restu dari yang lebih tua agar diberikan kelancaran dan keberkahan.

” Tradisi ini mengandung nilai-nilai berbagi dan kebersamaan, mengajarkan rasa syukur dan saling menghormati antara generasi, ” ungkap Baba Rudi.

Aneka tarian tradisional Bekasi dan Betawi ditampilkan peserta lomba dalam Hajatan Kampung Pondok Ungu ke 2 

Keluarga yang lebih muda akan mengunjungi keluarga yang lebih tua untuk memberikan makanan, bisa berupa makanan basah, lauk-pauk, atau sembako dengan makan bersama.

Seringkali, acara Sorogan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau kiai setempat, yang juga dihadiri oleh kerabat dan tetangga.

Sebelum acara dimulai rombongan Lurah Medan Satria dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi disambut dengan tradisi Lengser Tunggal dengan alunan Kidung Sundayang dipimpin oleh Kang Kabayan Kiwari.

Seperti yang kita ketahui, tradisi Nyorog dalam acara besar seperti perayaan Lebaran Bekasi, seringkali dilaksanakan dengan memotong kerbau dengan membeli seekor kerbau dengan patungan warga (Tradisi Andilan Potong Kerbau).

“Tradisi khas sorogan merupakan tradisi Betawi yang sudah mengakar sejak dulu, jadi di acara hajatan Warga Pondok Ungu ke 2 ini, Saya berupaya untuk menampilkan dan memperkenalkan kepada generasi muda agar tradisi budaya ini bisa dikenal lebih luas untuk dijaga dan dilestarikan, ” ujar Baba Rudi.

Daging kerbau tersebut kemudian dibagikan kepada warga setempat sebagai lauk pauk untuk merayakan hari besar tersebut.

Jadi, istilah “sorogan potong kerbau” tampaknya merupakan gabungan dari dua tradisi terkait, di mana sorogan (atau nyorog) merujuk pada kegiatan berbagi/mengantar, dan potong kerbau adalah bagian dari persiapan menyambut hari raya di mana dagingnya dibagikan (mungkin sebagai bagian dari bingkisan Nyorog).

Baba Rudi menilai bahwa tradisi sorogan patut untuk terus dilestarikan oleh masyarakat. Sebab mengandung nilai-nilai untuk menumbuhkan atau mempertahankan kebersamaan, gotong royong dan silaturahmi.

Tradisi Sorogan ini juga diapresiasi oleh Dedi Suparman dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi untuk dimasukan dalam aset budaya tradisional masyarakat Kota Bekasi yang akan dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.

“Alhamdulillah Lurah Medan Satria dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sangat mendukung acara Hajatan Kampung Pondok Ungu ini untuk digelar tiap tahunnya dan menyarankan agar Saya mematenkan Hajatan Kampung Pondok Ungu ini menjadi Hak Milik yang harusdi patenkan di HAKI, ” beber Baba Rudi.

Dalam kesempatan yag sama Ketua RW 06 Hendrik didampingi oleh pengusaha medan satria, Ayub turut merasa bangga dan mengapresiasi gelaran Hajatan Kampung Pondok Ungu tahap ke 2 ini berjalan sukses dan meriah.

“Semoga di tahun selanjutnya semakin meriah dan banyak pihak yang ikut berkolaborasi untuk mensukseskan acara budaya tradisional Bekasi, ” pungkasnya. (SF) 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *