Daerah  

Pelatihan Vokasi Tailor Made Training BPVP Bandung di SPPG Pangauban Batujajar

Bandung Barat, Berita Jejak FAktaPenguatan kompetensi bagi tenaga kerja di sektor layanan gizi terus dipacu guna memastikan standar keamanan dan kualitas pangan bagi masyarakat.

Di Kabupaten Bandung Barat upaya ini diwujudkan melalui pelatihan vokasi sertifikasi bagi para penjamah makanan yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemeliharaan Gizi (SPPG).

​Kegiatan bertajuk Tailor Made Training (TMT) tersebut berlangsung di SPPG Pangauban, Yayasan Azura Berkah Rezeki, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Senin (6/4/2026).

Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi antara Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung di bawah Kementerian Ketenagakerjaan dengan Himpunan Penyelenggara Kursus Pelatihan Indonesia (HIPKI).

​Ketua DPC HIPKI Kabupaten Bandung Barat, Rostiawati, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk mendukung program penguatan gizi nasional yang menjadi prioritas pemerintah saat ini.

Sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjadi pengakuan formal atas kompetensi teknis para pekerja di lapangan.

​”Tahun ini kami mendapatkan amanah untuk pelatihan penjamah makanan bagi tenaga di SPPG yang tersebar di Bandung Barat, meliputi wilayah Batujajar, Cimareme, dan Cipeundeuy. Sertifikat BNSP dengan lambang garuda emas ini memiliki nilai luar biasa karena berlaku baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Rostiawati di sela pembukaan kegiatan.

​Standar Kompetensi Tinggi

​Meskipun dilaksanakan secara intensif selama empat hari, kurikulum pelatihan dirancang padat dengan total 40 jam pelajaran. Materi disampaikan melalui kombinasi pembelajaran daring selama dua hari, dilanjutkan dengan praktik lapangan, dan diakhiri dengan uji kompetensi profesi pada hari terakhir.

​Rostiawati menambahkan, biaya mandiri untuk mengikuti sertifikasi ini sebenarnya cukup tinggi, mencapai sekitar Rp 7 juta per orang. Namun, melalui dukungan anggaran pemerintah pusat yang disalurkan melalui BPVP Bandung, para peserta dapat mengikutinya tanpa dipungut biaya.

​Kepala SPPG Pangauban, Ahmad Sofyan, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, aspek legalitas dan kompetensi bagi pengelola dapur umum atau unit layanan gizi adalah kebutuhan mutlak.

​”Kami sangat bersyukur karena ini merupakan rezeki sekaligus amanah yang luar biasa. Jika mendaftar secara mandiri, biayanya cukup besar. Melalui pelatihan ini, harapan kami SPPG yang sudah tersertifikasi dapat memberikan pelayanan yang jauh lebih baik dan profesional,” tutur Ahmad.

​Sebanyak 16 peserta yang terdiri dari asisten lapangan dan tenaga administrasi mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Salah satu peserta, Lutfi Azmi Hanafi yang menjabat sebagai asisten lapangan di Dapur 1 SPPG Pangauban, menyatakan bahwa materi yang didapatkan sangat krusial bagi keseharian pekerjaannya.

​”Pelatihan penjamah makanan ini bukan sekadar tentang cara memasak, melainkan tentang standar higienis, sanitasi, dan pencegahan kontaminasi. Saya merasa diamanahi untuk bisa mengimplementasikan ilmu ini secara tuntas demi kualitas makanan yang kami sajikan,” kata Lutfi.

​Relevansi Vokasi

​Program Tailor Made Training seperti ini memang dirancang untuk menyelaraskan keahlian tenaga kerja dengan kebutuhan industri atau unit kerja spesifik. Fokus utamanya adalah penguasaan keahlian praktis atau hands-on sehingga peserta benar-benar siap kerja (job-ready).

​Bagi para penjamah makanan, pemahaman mengenai Higiene Sanitasi Makanan (HSM) merupakan fondasi utama. Hal ini mencakup kebersihan peralatan, perilaku hidup bersih sehat, hingga prosedur teknis pengolahan agar asupan nutrisi yang diberikan kepada masyarakat tidak hanya bergizi, tetapi juga aman secara medis.

​Dengan adanya sertifikasi ini, diharapkan standardisasi layanan gizi di wilayah Kabupaten Bandung Barat dapat meningkat secara signifikan, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan masyarakat melalui rantai pangan yang aman dan teruji.(Septyan)

Exit mobile version