Oleh : Ebong Hermawan
Presiden Pesbuker Bekasi
Kab Bekasi, Berita Jejak Fakta -Tradisi kesilapan berulang, ibarat keledai terperosok dilubang yang sama.
Tahun 2018, Bupati Neneng Hasanah Yasin dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat kasus suap Meikarta yang menjadi issu nasional.
Kita berharap itu yang terakhir. Tapi, dipenghujung tahun 2025 ini, sejarah memalukan terulang lagi.
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang sang wajah inocent, anak muda yang disanjung bagai pangeran penyelamat menjadi impian perubahan, malah dicokok OTT KPK bersama ayahnya sendiri.
Keduanya tersandung kasus ijon proyek bersama pemborong ( kemaruk ) yang merugikan daerah.
Dinasti sebagai bibit rujit, biang keladi menjadi kegaduhan politik dan kekacauan pola kepemimpinan. Kasus berulang ini memunculkan tanda tanya besar, Apakah sistem politik di Bekasi sudah parah rusaknya?
Penyakit akut hingga siapa pun yang duduk di sana pasti gila tergoda -goda bibit harta yang mudah untuk dicari sumbernya.
Skandal kali ini bahkan lebih miris karena melibatkan duet ayah dan anak ( anak polah bapak kepradah ).
Sinyal bahaya darurat korupsi dan dekandensi (kemunduran/penurunan) moral sudah melembaga di Kabupaten Bekasi.
Praktik dinasti politik, di mana kekuasaan dianggap sebagai bisnis keluarga, pintu masuk jalan mencari kekayaan, mengabaikan amanat rakyat dan memupuskan harapan.
Jabatan Bupati Bekasi seolah menjadi kursi empuk tapi “memanggang” siapa pun yang tidak punya empati tanpa integritas.
Politik modal balik harusnya menyadarkan bagi para pemilih, harus waras atau sakit kronis.
Prilaku korupsi pejabat politik atau pejabat publik, bermula dari tingginya biaya politik saat kampanye.
Jika kita masih memilih pemimpin berdasarkan “siapa yang banyak duit”, sembako gratisan, sejatinya kita sedang mendorong mereka untuk korupsi.
Logika klasiknya “Tidak ada makan siang gratis”. Uang yang mereka sebar saat Pilkada, pasti akan mereka ambil kembali dari uang rakyat saat menjabat.
Jadi, berhentilah menukar suara masa depan kita dengan keuntungan sesaat atau kita akan terus menerus dipimpin oleh para “pedagang” berkedok pejabat tapi munafik.
